.

TOKO ONLINE

Asus Zenpad Z170CG - 1GB - 8GB - 7 Inch

Asus Zenpad Z170CG - 1GB - 8GB - 7 Inch
Rp 1.249.000

Winner U8008 Skeleton Automatic Mechanical Watch

Winner U8008 Skeleton Automatic Mechanical Watch
Rp 349.000

KELOMPOK TANI “NAMORA TANI” KEDATANGAN KONSULTAN PUPUK ORGANIK

Posted by Berman HS Sabtu, 28 Mei 2016 0 komentar
Persawahan di Desa Huta Namora Kec. PANGURURAN. 

KONSULTAN: MULAI PROSES PEMBIBITAN PADI SEBAIKNYA DI RENDAM MENGGUNAKAN GARAM

PANGURURAN, CERITA SAMOSIR – NAMORA TANI adalah salah satu kelompok tani yang ada di desa Huta Namora Kecamatan Pangururan yang mana kelompok tani ini baru terbentuk dan sudah memiliki badan hukum, yaitu memiliki kepengurusan dari hasil musyawarah rapat dan memiliki Akte. Lantaran dasar memiliki hukum inilah orang lain langsung percaya dan melirik kelompok ini, yang mana konsultan pupuk organik dari swasta tertarik untuk membina kelompok ini.

Pembinaan pada pertama sekali yang di lakukan konsultan adalah memberikan materi hal-hal yang salah yang dilakukan para petani selama ini dan menjelaskan bagaimana yang sebenarnya. 
“Bapak Ibu sekalian, kami dari CV. Mitra Tani yang pasti dari swasta, dari Dairi, kami sangat senang jika Bapak dan Ibu mau menerima kami untuk membina kelompok yang besar ini,” Seru  Bapak Mangunsong (47) salah satu rombongan sekaligus sebagai Narasumber/Konsultan.
“Kita mulai dari tanah ! di sekitar Huta Namora saya lihat dekan dengan Danau, tentu lancar airnya, berarti  Nitrigennya atau ureanya lumayan tinggi namun Ph-nya atau keasamannya rendah, jika kita buat pupuk urea akan memperlambat pertumbuhan tanaman,” jelas Bapak Mangunsong sambil merapikan kerah jaket hitamnya.

Menurut Bapak Mangunsong, Bibit perlu ada perlakukan, kalau kita selama ini hanya merendam bibit padinya itu belum ada perlakukan. Maka perlakuannya adalah kita rendam dulu bibit tersebut menggunakan garam dapur, biasanya untuk 5 (lima) gayung air, garamnya 1 (satu) bungkus, kira-kira 4 (empat) jam, setelah itu baru di rendam ke air seperti biasanya hingga mata bibit keluar, perlakuan tadi gunanya untuk memperkuat bibit atau anti biotik bibit.

Masalah pembibitan; sebelum di tabur bibitnya, sebaiknya di tabur dulu kompos. Kompos atau kotoran hewan harus masak dulu, bukan berati jika kering kompos itu sudah masak, itu salah, kalau belum masak maka efek sampingnya, daun bibit akan kuning dan berbintik-bintik.
“Kita harus menciptakan bibit nanti kedepan kalau hubungan baik kita berjalan dengan baik, dan bisa kelompok ini menjual-nya agar menambahi uang kas kelompok,” saran-nya.

“Kita coba dua rantai bibit yang berlabel putih sebanyak dua kg, harus dapat minimal 30 kaleng x 11 = 330, berarti bisa 17,5 hektar bibit. Banyak petani membeli bibit berlabel biru karena murah padahal itu bibit sekali panen harus tinggal makan, tidak bisa di bibitkan lagi, kalau yang berlabel putih tadi, masih bisa hasil panen di buat bibit lagi,” pungkas Pak Mangunsong dengan antusias.

Masalah pemupukan Pak Mangunsong membeberkan,  5 (lima) hari setelah penanaman bibit, bibit tersebut sudah mencari makanan, padahal biasanya kita memupuk setelah 10 hari berarti apa makanan bibit itu. Kemudian, pemberian pupuk urea, postat, ZA itu pada tahap pertama, dan tahap kedua pupuk urea, ZA, mutiara, NPK pada usia minimal 15 hari, kalau jika sudah berumur 40 hari pupuk NPK (postat)  tidak berfungsi lagi, dan kita rugi di segi pembelian pupuk urea.

Postat itu untuk  buah, sementara pada umur 40 hari sudah mulai berbuah, jadi untuk apa, jadi caranya perbanyak di tahap pertama NPK tapi jangan kebanyakan efeknya beras-nya kosong.
Maka untuk pertani padi yang cocok adalah pemberian pupuk NPK (N adalah urea, P adalah postat, K adalah kalium) ditambah Mg dan Si.
“Kenapa dapdap di tanam di kebun itu karena dapdap ada krolofil pencipta hijau daun, kenapa padi daun padi hijau karena klorofilnya kurang, stomatanya tidak bagus akibatnya daun berlubang-lubang. Kalau bisa kita ciptakan klorofil yaitu Ch Mg, kalau di pupuk mutiara tidak ada klorofil, tidak ada bedanya manusia dengan tumbuhan,” pungkas Pak Mangunsong. 
“Mg itu maknesium, kalau Mg tersimpan di tanah maka mineral berat. Bagaimana kalau kita manfaatkan ZA + Urea +  Kp 30 (pupuk organik), saya kira itu untuk padi, kalau kita lakukan hal seperti yang saya terangkan hanya 50 % saja, kita akan berhasil,” lanjutnya.

“Kalau tanaman kopi, menurut Bapak mangunsong sebaiknya jangan memakai Rondap karena kopi membutuhkan 5,8 + 6,5 Ph tanah, maka jika kita memakai rondap yang mengandung glifosat, biofosof, dan Ph-nya 4,3 itu adalah kondisi tanah seperti tanah lapang. Padahal kopi harus 5,8 Ph. Artinya tanah kita akan rusak dan merusaki tanaman, jadi solusinya buat obat pembasmi rumput yang mematikan hanya di atas karena rondap mematikan jaringan tanaman.

Kalau mengenai cabe Bapak Mangunsong menjelaskan bahwa daun cape yang bergulung ada 3 (tiga) jenis; pertama bergulung dari bawah ketas, kedua; bergulung dari atas kebawah, ketiga; bergulung dari ujung daun sampai kepangkal daun. Itu semua bukan semata-mata karena hama, penyakit, atau kekurangan makanan, yang pertama adalah karena kekurangan klorofil dan kedua urat perjalanan makanan dari batang kedaun kurang lancar. Maka solusinya tabur pupuk Ni dan Mg. Jangan sedikit-sedikit menggunakan pupuk kimia, karena di pupuk kimia tersapat racun bernama kobat. Inilah yang merusak tanah itu.

Kalau mengenai tanaman jagung, kalau jagung memiliki 3 (tiga) tingkat akar, maka jagung tersebut sudah bagus. Pupuk dasar untuk jagung adalah urea, SP, dan KCL jangan ditambahi, kalau jangung sudah mulai keluar kumisnya maka bantu jagung untuk membuahi, caranya goyang batang jagungnya agar jantannya menemui sang betina, kemudian jangan terlalu rapat kalau menanam jangung karena tongkol jangung yang seharusnya 2 (dua) bisa menjadi 1 (satu). Kira-kira jaraknya 7 (tuju) cm. Kemudian kalau pemilihan bibit jagung pilihlah yang kecil dan agak jelek, jangan yang besar dan cantik, karena tidak ada proses perbuatan disana. Awalnya jagung bersal dari India, terlihat dari bibit C7,” papar Pak Mangunsong.
“Kalau tanaman kita mulus dan cantik itu ciri-ciri tanaman yang akan gagal, artinya tanaman seharusnya memiliki rogen yang lengket di batang atau dibuah tanaman tersebut, bentuknya halus, seperti rambut-rambut yang berwarna putih, itu gunanyaa untuk mencegah hama penyakit, kalau semakin banyak maka akan semakin kuat tanaman itu. Saya kira, ini hanya ½ masih pengetahuan yang saya sampaaikan, tapi karena waktu kita bertemu dilain waktu,” tutup pak Mangunsong.

S. Sihite (53) ketua kelompok Namora Tani mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak konsultan. “Ini sangat mahal. Kita hargai kelompok kita ini, kelompok tani tidak semata-mata menunggu bantuan bibit atau bantuan alat, tapi yang paling penting ilmu bertani ini, ini yang mahal, pertemuan berikut teori harus berlanjut. Mudah-mudahan kelompok tani kususnya kepada masyarakat Huta Namora umumnya mendapatkan perubahan, sekali lagi terimakasih !.” bhs

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: KELOMPOK TANI “NAMORA TANI” KEDATANGAN KONSULTAN PUPUK ORGANIK
Ditulis oleh Berman HS
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://ceritasamosir.blogspot.com/2016/05/kelompok-tani-namora-tani-kedatangan.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Sergio Jaya
Toko Pakaian di Samosir

The Alien
CERITA SAMOSIR WARTAWAN: BERMAN HS support Eva's Blog - Original design by Bamz | Copyright of CERITA SAMOSIR.

Lencana Facebook

Blogroll